Press "Enter" to skip to content

Sejarah Romantis Dibalik Penganan Ketan Bakar

Nasi ketan bakar atau juga disebut nasi ketan Uli adalah makanan khas Bekasi yang masih ada. Beras ketan bakar sekarang bahkan hadir dengan rasa dan topping yang lebih kaya, lebih dari sekadar kelapa parut dan serpihan kelapa. Namun tidak banyak orang tahu bahwa keti uli memiliki sejarah menciptakan kecukupan dalam hal hubungan keluarga dan persahabatan dengan orang Bekasi. Bukan hanya soal jejak rasa, tetapi juga signifikansi religius yang hadir di sana. Wira Hardiyansyah, seorang aktivis sejarah nusantara yang juga seorang koki, menjelaskan bahwa proses pembuatan ketan uli dapat dianggap romantis karena ada pembagian kerja antara pria dan wanita. Mereka bekerja sama untuk membuat camilan yang lezat.

Biasanya anak laki-laki memukuli nasi ketan sementara anak perempuan diperbolehkan memasak atau memasak. Pembagian kerja itu penting, termasuk simbol solidaritas bagi penduduk Betawi, kata Wira kepada Ayobekasi.net, Selasa (11/12/2019). Dia melanjutkan, jauh sebelum keberadaan peradaban Betawi, beras ketan disimbolkan sebagai hubungan kuliner pemersatu antara orang-orang, baik di dalam maupun di luar kerajaan zaman kejayaan Majapahit. Di arsip beberapa sejarawan ada juga stiker yang terbuat dari beras ketan. “Nasi ketan mengandung banyak gluten. Dia lengket, lengket satu sama lain. Yah, sepertinya kami berkumpul bersama bahwa kedekatan kami semakin baik, “kata Wira.

Proses pembuatan ketan uli juga terkait dengan asumsi mistis bahwa ada sejumlah syarat dan batasan yang harus diterapkan jika Anda ingin membuat ketan yang sempurna. Jika hanya satu yang dilanggar, ketan bisa menjadi jahat, bahkan tidak berhasil. “Melakukan itu sangat sulit. “Di masa lalu, keti uli dibuat bersama dengan ukiran kerbau, yang merupakan tradisi masyarakat Betawi sebelum Idul Fitri atau acara besar,” katanya. Jika ada banyak variasi beras ketan, Wira melanjutkan, itu akan menjadi inovasi yang masih tidak membatalkan keaslian rasa ketan itu sendiri. “Perubahan biasanya diisi. Lengketnya tetap sama. Jadi ceritanya masih ada dan tidak boleh dihapus,” kata Wira.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *