Alergi anak merupakan reaksi berlebihan dari sistem imunitas atau daya tahan tubuh, yang dipicu oleh alergen. Sistem imunitas selanjutnya menyerang alergen yang dapat menyebabkan munculnya gejala-gejala pada tubuh. Reaksi alergi bisa menjadi sangat serius, dan bahkan membahayakan nyawa. Dengan tujuan melindungi tubuh, sistem imunitas akan menjadikan antibodi yang disebut immunoglobulin E (IgE). IgE selanjutnya menstimulasi sel tertentu untuk mengeluarkan zat kimia termasuk histamin ke dalam aliran darah untuk mempertahankan diri terhadap alergen. Akibat dikeluarkannya histamin tersebut bisa memicu reaksi alergi pada tubuh, mulai dari mata, hidung, kulit, paru-paru, dan saluran pencernaan. Salah satu orang tua yang mempunyai alergi akan meningkatkan kemungkinan alergi sekitar 40-50 persen kepada anaknya. Meskipun belum tentu jenis penyebab alergi yang sama. Jika kedua orang tua mengalami alergi, maka kemungkinan anak mengalami alergi akan meningkat hingga 80 persen.

  1. Alergi pada kulit
    Kulit merupakan organ tubuh terbesar sekaligus bagian dari sistem imunitas yang dapat bereaksi pada alergen. Gejala alergi kulit pada anak seperti ini bisa dilihat seperti eksim yaitu bagian kulit tampak kering, merah, bersisik dan gatal. Selain itu, gejala alergi kulit bisa berupa urtikaria (biduran), yaitu kondisi ketika kulit tampak memerah dengan jangkauan yang beragam, mulai dari titik kecil hingga jauh lebih besar.
  2. Alergi makanan
    Gejala gangguan usus seperti misalnya keluhan kram perut atau diare yang berulang, kemungkinan merupakan pertanda alergi. Selain itu, alergi seperti ini dapat diikuti dengan sakit kepala, lelah yang berlebihan, serta gelisah dan gangguan mood. Beberapa jenis makanan yang umum menyebabkan alergi antara lain susu, telur, kacang-kacangan, kedelai, gandum, ikan, kerang, dan beragam jenis jeruk. Hati hati penyebab alergi yang terkandung dalam makanan tanpa disadari. Seperti kacang dalam sereal dan kedelai pada makan olahan atau makanan beku.
  3. Alergi pada hidung
    Sebagian dokter anak, baru akan menangani anak mengalami alergi pada hidung setelah menginjak usia di atas empat tahun. Karena, dibutuhkan waktu beberapa tahun agar seorang anak benar-benar mengalami alergi. Akan tetapi, seringkali anak usia 2-3 tahun terlihat mengalami alergi pernapasan tersebut. Gejala yang umumnya dialami anak dengan alergi pernapasan antara lain hidung gatal dan berair, hidung tersumbat, sering bersin, batuk berulang, mata merah dan berair, lingkaran gelap di bawah mata, bernapas melalui hidung saat tidur, dan kelelahan karena kurang tidur. Umumnya, gejala-gejala tersebut berlangsung lebih dari beberapa minggu.
  4. Alergi binatang peliharaan
    Sebagian anak mengalami suatu alergi pada binatang peliharaan di rumah. Meski sebenarnya, pemicu alergi umumnya disebabkan oleh sel kulit mati, air liur, urine, dan bulu dari binatang tersebut. Gejala yang sering terjadi yaitu ketika anak bersin-bersin setelah bermain ataupun memegang binatang peliharaan. Para ahli menunjukkan, agar bisa menghilangkan pengaruh alergi binatang peliharaan dibutuhkan waktu sekitar satu tahun, setelah hewan tersebut tidak berada di sekitar kita. Hal ini di karenakan sel kulit mati hewan peliharaan anda dapat bertahan hingga satu tahun sebelum benar-benar hilang.

Jika memang orang tua tidak mengetahui jenis alergi apa yang dialami anak, maka dianjurkan untuk mengonsultasikan dengan dokter. Untuk memastikan, dapat dilakukan tes kulit atau tes darah untuk mengetahui tingkat antibodi igE dalam darah. Alergi anak perlu diketahui dan tidak boleh diremehkan. Selalu minta saran dokter anak Anda untuk mengatasi dan memberikan obat untuk alergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *